Konsentrasi rata-rata gas rumah kaca di atmosfer bumi telah mencapai rekor baru. Menurut badan penelitian Amerika, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), konsentrasi bulanan gas rumah kaca global Maret 2015 telah melampaui angka 400 ppm (parts per million). Angka ini belum pernah tercapai sebelumnya, bahkan dalam jutaan tahun sebagaimana terekam dalam inti es  Kutub Utara.

400ppmSebelum revolusi industri terjadi sekitar tahun 1850, konsentrasi gas rumah kaca global hanya sekitar 280 ppm. Ada penambahan konsentrasi sebanyak 120 ppm yang separuhnya terjadi setelah tahun 1980. Peningkatan yang cepat ini terutama diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.

Sebagaimana diketahui, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan pemanasan global dan pemanasan global akan menyebabkan perubahan iklim dan perubahan iklim akan menyebabkan banyak perubahan yang dapat mengancam perikehidupan umat manusia, misalnya peningkatan jumlah kejadian cuaca ekstrim seperti topan dan curah hujan tinggi.

Untuk memahami apa dan bagaimana perubahan iklim, dampak-dampaknya serta upaya-upaya apa yang dapat dilakukan, kita dapat mengacu pada hasil-hasil penelitian Panel Ahli Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC). Laporan-laporan IPCC sangatlah kaya dengan informasi yang bermanfaat dan kredibel tentang perubahan iklim yang sebaiknya dapat dipahami oleh khalayak luas, khususnya para pengambil kebijakan. Karena alarm 400 ppm telah berbunyi, tulisan ini bermaksud menyampaikan sebagian hasil penelitian IPCC yang terkait pernyataan IPCC bahwa pemanasan global (dalam hal ini adalah peningkatan suhu bumi dibandingkan saat pra revolusi industri) harus dijaga agar tidak melebihi 2 derajat Celcius supaya dampaknya masih relatif dapat diatasi oleh umat manusia.

Emisi gas rumah kaca yang bersifat antropogenik sangat terpengaruhi oleh jumlah penduduk, kegiatan ekonomi, gaya hidup, pemakaian energi, pola penggunaan lahan, teknologi dan kebijakan terkait. Dalam laporan terakhirnya, IPCC membuat beberapa skenario perkembangan emisi gas rumah kaca yang telah mempertimbangkan faktor-faktor tersebut di atas. Skenario-skenario tersebut diberi kode RCP2.6 (skenario rendah emisi), RCP4.5 dan RCP6.0 (skenario emisi menengah) dan RCP8.5 (skenario emisi tinggi). IPCC juga menyatakan bahwa kondisi saat ini atau kondisi tidak adanya tindakan tambahan untuk membatasi emisi gas rumah kaca atau skenario dasar (baseline scenario) kurang lebihnya ada diantara skenario RCP6.0 dan RCP8.5. Secara khusus, skenario RCP2.6 adalah skenario dimana pemanasan global dapat dijaga dibawah 2 derajat Celcius.

Bagaimana hubungan antara skenario-skenario ini dengan jumlah emisi global dan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.

rcp-vs-annem

Dalam kotak (a) ditunjukkan hubungan berbagai skenario dengan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dengan data emisi terakhir pada tahun 2010. Terlihat bahwa skenario RCP2.6 berimpitan dengan skenario konsentrasi gas rumah kaca 430-480 ppm dan 480-530 ppm, skenario RCP4.5 berarti 530-580 dan 580-720 ppm, dan seterusnya.  Dalam kotak (b) ditunjukkan hubungan kenaikan temperatur bumi dengan berbagai skenario konsentrasi gas rumah kaca dan emisi kumulatif terhitung tahun 1870.  Terlihat bahwa apabila kita ingin menjaga peningkatan temperatur pada 2 derajat Celcius (sumbu Y) maka konsentrasi gas rumah kaca maksimal yang dapat diterima adalah 530 ppm (elips berwarna biru, target konsentrasi adalah 450 ppm) dan itu berarti kita harus menjaga emisi kumulatif di akhir abad ini tidak melampaui 1000 GtCO2 (sumbu X).

Penjelasan tentang mengapa pemanasan 2 derajat Celcius menjadi batasan dan apa upaya yang dapat dilakukan untuk mencapainya diterangkan dalam gambar berikut.

cc-risk

Dalam bagian A diterangkan 5 macam kategori resiko yang diakibatkan perubahan iklim yaitu resiko terkait kerusakan sistem ekologi, kejadian cuaca ekstrim, distribusi dampak, total dampak secara global dan kejadian-kejadian singular. Dari keterangan warna di kiri bawah, dapat kita ketahui bahwa peningkatan suhu 2 derajat Celcius berarti bahwa sebagian besar resiko akibat perubahan iklim ada di tingkat menengah atau menengah-tinggi. Diasumsikan tingkat resiko ini masih dapat diatasi dengan penerapan kebijakan dan teknologi yang tepat dan biaya yang tidak terlalu tinggi. Dalam bagian B ditunjukkan bahwa menjaga resiko perubahan iklim di tingkat yang dapat diterima sangat terkait dengan tingkat konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan pada akhirnya terkait dengan jumlah gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer setiap tahunnya (bagian C). Ditunjukkan bahwa untuk pemanasan global maksimal 2 derajat Celcius, di tahun 2050 dunia harus menurunkan emisi tahunannya sebanyak 40-50% di bawah tingkat emisi tahun 2010. Ini adalah suatu tugas luar biasa bagi kita.

Di akhir tahun ini di Paris, Perancis, akan diadakan Konferensi para Pihak (Conference of Parties) badan PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) yang ke-21. Dalam konferensi tersebut diharapkan dapat diambil suatu kesepakatan global guna memaksa seluruh negara di dunia untuk berkontribusi menjaga pemanasan global tidak melebihi 2 derajat Celcius. Sejarah akan mencatat apakah negara-negara ini akan mematuhi rekomendasi IPCC dan berkontribusi pada pengendalian perubahan iklim ataukah sebaliknya. Terlepas dari itu, kita sebagai individu dapat tetap berkontribusi pada pengendalian perubahan iklim dengan mengurangi jejak karbon kita masing-masing.

Penulis: Andi Samyanugraha. Mei 2015. Disarikan dari Summary for Policymakers – IPCC Fifth Assessment Synthesis Report.